hal yang sulit ternyata adalah ketika diminta untuk mengungkapkan pendapat atau apa yang aku inginkan. begitu banyak hal dan cerita yang terlintas dalam otakku yang sama sekali tidak memberikan aku kesempatan untuk memilih dan memilah mana yang harus aku pikirkan. ujungnya hanya sepatah dua patah kata saja yang keluar dari mulutku.
dan itu hal yang menjengkelkan.
belum lagi ketika akhirnya aku memutuskan untuk mengungkapkan hal-hal yang ingin aku ungkapkan sedikit demi sedikit, namun ternyata, kenyataannya, tidak ada yang peduli dengan pemikiranku. pemikiran itu hanya berguna dan berharga untuk pikiranku sendiri. seolah untuk kesenangan pribadi. mungkin itu yang membuat aku tidak ingin membicarakan sesuatu kepada orang lain, bahkan aku menyakiti diriku sendiri seolah orang lain yang membutuhkan aku dan aku tidak.
seandainya ada orang yang tau membaca mata. karna mata berbicara banyak hal dibandingkan mulut.
apakah egois ketika aku ingin ditanyai lebih dulu mengenai keadaanku dan berharap ada orang lain yang mengerti tanpa aku harus bicara kalau aku tidak baik-baik saja?
egois? tidak egois?
egois, karena semua orang nggak bakal ngerti apa yang aku pikirkan.
nggak egois, karena aku pun punya hak untuk ditanyai lebih dulu tanpa harus bercerita lebih dulu.
sulit, ketika harus menjadi tong sampah bagi orang lain.
belum lagi sampah-sampah yang kita miliki. mau dibuang kemana?
hal yang sulit lainnya adalah ketika aku memiliki banyak tanggung jawab di sekitarku. bukan lari dari tanggung jawab, tapi label peran yang melekat padaku membuat aku menjadi orang lain.
menjadi Kristen, menjadi mahasiswa, menjadi anak, menjadi kakak, menjadi pengajar, menjadi adik, menjadi sahabat, menjadi kekasih, menjadi apapun.
harus begini, harus begitu, harus melakukan ini, harus melakukan itu, kalau tidak melakukan, kamu bukanlah Kristen, mahasiswa, anak, kakak, pengajar, adik, sahabat, kekasih, atau apapun yang baik.
sepertinya blog ini hanya pelarian. ketika aku merasa nggak ada lagi yang bisa aku ajak bicara mengenai siapa aku sebenarnya. bahkan belum tentu aku yang sekarang adalah aku yang sebenarnya.
bukan munafik, bukan.
tapi aku lupa siapa aku sebenarnya. seperti kehilangan esensi dasar siapa aku.
stuck.
nggak ngerti mau bicara apa lagi.
dan pikiran lain yang terlintas adalah, obrolanmu nggak penting, nggak bermutu.
percuma orang lain juga nggak peduli sama kamu, percuma nggak akan mengubah apapun di hidupmu.
seolah berperang dengan diriku sendiri dan aku yang sebenarnya selalu kalah.
aneh?
memang.
nggak semua orang mengalami.
atau mengalami tapi nggak berani untuk mengungkapkan.
awal depresi mungkin?
ah, aku bisa kok.
hanya perlu waktu sendiri.
sakit kok.
lelah.
capek.
ingin keluar.
berusaha menjadi baik ternyata tidak sebaik itu.
Thursday, October 12, 2017
Saturday, July 15, 2017
Menjadi Berbeda
Aku bisa jadi apa saja
Setinggi langit di angkasa yang tak ada batasnya
Aku bisa kalau aku mau
Cita-cita dan mimpiku...
Setinggi langit
Read more: http://www.wowkeren.com/lirik/naura/setinggi-langit.html#ixzz4mrydy6PG
Lagu itu terus berputar selagi beberapa foto-foto dan video lucu dari anak-anak PlayGroup bermunculan satu per satu. beberapa orang tua murid sudah datang ke pertemuan orang tua dan ada beberapa orang tua yang membawa anaknya, yang akan di sekolahkan di PlayGroup tersebut.
aku bukan bagian dari orang tua murid. aku bukan wali murid juga. tapi aku akan berperan sebagai kakak pengajar beberapa bulan ke depan dan mungkin anak-anak yang aku lihat menjadi salah satu anak yang akan ku ajar.
ada anak yang menari-nari saat lagu itu diputar. sambil beberapa kali menoleh ke belakang (karna aku dan beberapa kakak lain duduk di barisan paling belakang). anak itu tersenyum senang, bahkan sesekali meminta orang tua nya untuk berada di belakang. mungkin ingin bersama kakak-kakak pengajar di belakang hahhah polos sekali..
sempat aku teringat tentang mata kuliah yang akan aku ambil di semester berikutnya. dan aku mulai bingung dengan beberapa pilihan mata kuliah yang ada. bukan karna mampu, nggak mampu, tapi lebih karena suka, nggak suka, passion, nggak passion. orang tuaku menginginkan aku berada di perusahaan ketika sudah bekerja nantinya, atau mungkin bekerja di Bank dengan karier yang bagus, gaji yang besar, jalan-jalan setiap sebulan sekali dan lain sebagainya. dan aku merasa aneh karena apa yang aku inginkan berbeda dengan orang tua ku. selalu berbeda mungkin.
nggak hanya orang tuaku. teman-temanku pun juga menginginkan hal yang sama. mereka bekerja di perusahaan dengan gaji yang besar, mendapatkan bonus gaji tanpa harus bekerja terlalu keras. berada di ruangan ber-AC dan menikmati fasilitas perusahaan. mungkin juga kalau Tuhan berkehendak bisa bertemu dengan pasangan hidup mereka. ya, mungkin itu harapan setiap orang. bekerja di perusahaan, mendapat gaji yang besar dan berbagai bonus yang mengalir setiap bulan.
akupun terkadang menginginkan hal itu. tapi entah kenapa, dari aku kecil, aku ingin menjadi seorang guru. guru TK. dan tentu keinginan itu berbeda dengan keinginan orang pada umumnya. teman-temanku pun tidak begitu menyukai bekerja menjadi seorang guru karna alasan gaji mereka sedikit. orang tua ku pun tak kalah ambil suara, mereka lebih lagi mengatakan gaji sedikit, nggak ada liburan, terutamanya sih nggak ada jenjang karier yang bagus gitu deh..
memang benar. akupun melihat hal yang demikian.
tapi entah kenapa aku sampai sekarang tetap menyukainya.
nggak, aku nggak menyukai bekerja menjadi guru SMP atau guru SMA. aku lebih memilih untuk bekerja sebagai guru PG atau guru TK.
alasannya sederhana, karna aku bisa bermain dengan anak-anak hahaha
karna aku melihat anak adalah permata yang harus dijaga. masa kanak-kanak merupakan masa yang krusial karna mereka akan menerima berbagai informasi yang ada dan disana merupakan masa dimana mereka banyak belajar dari lingkungan. proses berpikir mereka sudah mulai jalan.
dan hal itu menjadi hal yang krusial.
ada harapan kecil di dalam hatiku.
aku nggak ingin anak-anak terkontaminasi dengan hal-hal yang tidak berguna.
aku nggak ingin anak-anak tidak bisa menikmati masa kanak-kanak mereka, masa bermain sambil belajar.
aku nggak ingin mereka memiliki gangguan, terutama gangguan secara psikis dan emosional, karna itu akan sangat berpengaruh pada saat ketika mereka beranjak dewasa maupun hingga sampai mereka dewasa.
aku adalah korbannya.
tuntutan yang tinggi dari orang tua dan keluarga.
sentakan, ucapan marah dari kedua orang tua, ejekan dari lingkungan membuat aku menjadi rendah diri dan merasa harus terus berprestasi agar "dilihat" orang lain.
"agar dilihat orang lain"
aku nggak ingin anak-anak yang polos itu merasa "tidak dilihat orang lain" atau "tidak dianggap orang lain"
karna hal itu menyakitkan, aku pernah merasakannya. dan cukup sulit untuk menghilangkan bekas luka itu.
anak-anak yang sangat berharga.
punya banyak potensi yang bahkan kita nggak sangka-sangka.
punya kreatifitas yang bahkan kita sendiri nggak pernah memikirkan hal itu.
punya kebahagiaan yang tentunya tidak berdasarkan pendapat orang lain.
punya segalanya.
dan mungkin tugasku disini adalah..
menjadi berbeda.
Tiffani Narulita
Setinggi langit di angkasa yang tak ada batasnya
Aku bisa kalau aku mau
Cita-cita dan mimpiku...
Setinggi langit
Read more: http://www.wowkeren.com/lirik/naura/setinggi-langit.html#ixzz4mrydy6PG
Lagu itu terus berputar selagi beberapa foto-foto dan video lucu dari anak-anak PlayGroup bermunculan satu per satu. beberapa orang tua murid sudah datang ke pertemuan orang tua dan ada beberapa orang tua yang membawa anaknya, yang akan di sekolahkan di PlayGroup tersebut.
aku bukan bagian dari orang tua murid. aku bukan wali murid juga. tapi aku akan berperan sebagai kakak pengajar beberapa bulan ke depan dan mungkin anak-anak yang aku lihat menjadi salah satu anak yang akan ku ajar.
ada anak yang menari-nari saat lagu itu diputar. sambil beberapa kali menoleh ke belakang (karna aku dan beberapa kakak lain duduk di barisan paling belakang). anak itu tersenyum senang, bahkan sesekali meminta orang tua nya untuk berada di belakang. mungkin ingin bersama kakak-kakak pengajar di belakang hahhah polos sekali..
sempat aku teringat tentang mata kuliah yang akan aku ambil di semester berikutnya. dan aku mulai bingung dengan beberapa pilihan mata kuliah yang ada. bukan karna mampu, nggak mampu, tapi lebih karena suka, nggak suka, passion, nggak passion. orang tuaku menginginkan aku berada di perusahaan ketika sudah bekerja nantinya, atau mungkin bekerja di Bank dengan karier yang bagus, gaji yang besar, jalan-jalan setiap sebulan sekali dan lain sebagainya. dan aku merasa aneh karena apa yang aku inginkan berbeda dengan orang tua ku. selalu berbeda mungkin.
nggak hanya orang tuaku. teman-temanku pun juga menginginkan hal yang sama. mereka bekerja di perusahaan dengan gaji yang besar, mendapatkan bonus gaji tanpa harus bekerja terlalu keras. berada di ruangan ber-AC dan menikmati fasilitas perusahaan. mungkin juga kalau Tuhan berkehendak bisa bertemu dengan pasangan hidup mereka. ya, mungkin itu harapan setiap orang. bekerja di perusahaan, mendapat gaji yang besar dan berbagai bonus yang mengalir setiap bulan.
akupun terkadang menginginkan hal itu. tapi entah kenapa, dari aku kecil, aku ingin menjadi seorang guru. guru TK. dan tentu keinginan itu berbeda dengan keinginan orang pada umumnya. teman-temanku pun tidak begitu menyukai bekerja menjadi seorang guru karna alasan gaji mereka sedikit. orang tua ku pun tak kalah ambil suara, mereka lebih lagi mengatakan gaji sedikit, nggak ada liburan, terutamanya sih nggak ada jenjang karier yang bagus gitu deh..
memang benar. akupun melihat hal yang demikian.
tapi entah kenapa aku sampai sekarang tetap menyukainya.
nggak, aku nggak menyukai bekerja menjadi guru SMP atau guru SMA. aku lebih memilih untuk bekerja sebagai guru PG atau guru TK.
alasannya sederhana, karna aku bisa bermain dengan anak-anak hahaha
karna aku melihat anak adalah permata yang harus dijaga. masa kanak-kanak merupakan masa yang krusial karna mereka akan menerima berbagai informasi yang ada dan disana merupakan masa dimana mereka banyak belajar dari lingkungan. proses berpikir mereka sudah mulai jalan.
dan hal itu menjadi hal yang krusial.
ada harapan kecil di dalam hatiku.
aku nggak ingin anak-anak terkontaminasi dengan hal-hal yang tidak berguna.
aku nggak ingin anak-anak tidak bisa menikmati masa kanak-kanak mereka, masa bermain sambil belajar.
aku nggak ingin mereka memiliki gangguan, terutama gangguan secara psikis dan emosional, karna itu akan sangat berpengaruh pada saat ketika mereka beranjak dewasa maupun hingga sampai mereka dewasa.
aku adalah korbannya.
tuntutan yang tinggi dari orang tua dan keluarga.
sentakan, ucapan marah dari kedua orang tua, ejekan dari lingkungan membuat aku menjadi rendah diri dan merasa harus terus berprestasi agar "dilihat" orang lain.
"agar dilihat orang lain"
aku nggak ingin anak-anak yang polos itu merasa "tidak dilihat orang lain" atau "tidak dianggap orang lain"
karna hal itu menyakitkan, aku pernah merasakannya. dan cukup sulit untuk menghilangkan bekas luka itu.
anak-anak yang sangat berharga.
punya banyak potensi yang bahkan kita nggak sangka-sangka.
punya kreatifitas yang bahkan kita sendiri nggak pernah memikirkan hal itu.
punya kebahagiaan yang tentunya tidak berdasarkan pendapat orang lain.
punya segalanya.
dan mungkin tugasku disini adalah..
menjadi berbeda.
Tiffani Narulita
Subscribe to:
Comments (Atom)