Thursday, January 9, 2014

Kembali dan Percaya (3)

dalam kehidupan kita, kita sering merasa hidup ini berat, hidup ini tidak adil, hidup ini harus bergengsi dan kita harus berada di atas orang-orang yang kita benci.

Tuhan memang tidak menjanjikan kemudahan dalam mendayung atau mengarungi segala permasalahan. tapi Dia berjanji akan selalu menemani kita dan bersama kita.
Tuhan memang tidak menjanjikan kesenangan dalam kehidupan kita, tapi Dia akan mencukupkan kita dan memberikan kita sukacita.










menulis tentang Tuhan sangat sulit buat gue. lebih mudah gue mendiskripsikan betapa indahnya dosa daripada damainya berjalan bersama Yesus.
ini kesalahan terbesar gue. gue sendiri belum bisa lepas dari segala dosa gue, tapi gue udah mulai nyeramahin orang-orang di sekitar gue. seenggaknya lewat cerita gue, semua tau betapa galaunya hati gue. mungkin gue kurang ibadah kali.

tapi gue rindu. gue sangat rindu betapa damainya bersama Dia. betapa indahnya melayani Dia dan bekerja dalam rumahNya, walau capek tapi sukacita dan damai sejahtera selalu Dia berikan seperti janjiNya.

kembalilah fun, percaya saja.
memang duniawi terlihat lebih nikmat. namun itu sementara.
kasihNya akan terus ada sampai selama-lamanya.
Dia mengasihimu, fun. kembalilah. percayalah jiwaku yang haus akan kasihNya.

Kembali dan Percaya (2)

rasa bimbang terus bergejolak dalam hati dan pikiranku. hati kecilku bilang aku harus pergi dari pulau itu karena tidak baik dan harus mengikut dia yang memanggil namaku sejak tadi. tetapi pikiranku jauh menggiurkan. hidupku masih panjang, mungkin bersenang-senang sedikit tidak masalah. toh hanya sebentar.

aku kembali ke pesta itu dan minum banyak anggur. ternyata aku tidak kuat dan mulai merasa pusing serta mual. aku mengeluarkan banyak air dari mulutku dan perutku tidak enak. tiba-tiba muncul perasaan aneh. perasaan bersalah. seperti ada yang menegor, tapi siapa? mungkin aku harus bertanya pada orang yang berada di perahu itu.
ingin aku bertanya dan menghilang dari pesta, tanganku ditarik dan beberapa temanku mengajakku berdansa semalaman penuh. rasa capek pun menyelimuti tubuhku yang mulai merasa kedinginan karena hari mulai malam. menyesal kembali merasuk tubuhku. seperti ada yang mengatakan bahwa aku membuang-buang waktuku dengan percuma dan hidupku hampa sekarang. apa yang terjadi?

diam-diam aku menyelinap keluar untuk mengetahui apakah orang yang berada di perahu itu masih ada. ternyata dia masih dalam posisi yang sama. berada di atas kapal dengan memanggil beberapa nama.
udara dingin menusuk tulang mulai menyambar. mungkin di dalam akan ada selimut atau sesuatu yang bisa digunakan. baru selangkah aku beranjak, terdengar namaku dipanggil. aku mencoba tidak menghiraukan, namun dia berkata kembalilah. aku membalikkan badan dan bertanya, kembali untuk apa. percaya saja. hanya itu jawaban yang ku terima.

aku mencoba tidak peduli, namun apa salahnya aku menuruti orang itu. mungkin dia orang baik-baik.
aku dekati tepi pantai dan mulai merasakan desiran ombak yang hangat. kulihat lurus, ombak hangat itu hanya terdapat segaris dengan perahu itu. aku beranikan diri untuk mendekat dan melihat wajah siapa orang yang selalu memanggil nama orang-orang itu, namun tetap tidak jelas. sampai tepat dekat dengan perahu itu, tidak jelas terlihat. hanya pancaran sinar terang yang aku lihat.
naiklah, katanya. kemana, dia hanya menjawab dayunglah.

kau, pembaca cerita ini pasti sudah bisa menebak siapa dia.
ya Dia Tuhan kita Yesus.
dan kau, pembaca cerita ini sudah bisa menebak akhirnya.
yak dalam perjalanan yang sulit dan kelelahan mendayung, ternyata Dia pun ikut mendayung perahu itu dengan dayung yang lebih besar.
Dia bersama kita. Dia mengasihi kita.

Kembali dan Percaya (1)

begitu aneh perasaan ini. bukan. bukan soal cinta. sekarang cinta terasa sangat mudah bagiku karena memang aku tidak sedang menjalin hubungan yang terlalu istimewa dengan seseorang.
perasaan ini muncul ketika kamu dihadapkan pada dua pilihan yang sama, namun tetap memilih pilihan yang salah. tidak pernah benar karena tidak ingin berpisah dan tidak ingin beranjak dari pilihan yang salah itu.
sudah tau salah, mengapa masih dipilih? kontroversi hati dan pikiran.  karena aku juga manusia biasa. masih memiliki keturunan darah dosa walaupun sedikit.

perasaan itu seperti kamu baru terbangun dan berada pada sebuah sampan mini dan dua dayung. kamu mencoba mendayung dan sampai pada suatu pulau. banyak tulisan dilarang masuk, berbahaya, dilarang berkunjung dan larangan-larangan lain yang sama menakutkannya. tetapi bila diperhatikan lebih jelas dibalik pepohonan bambu yang rimbun terdapat banyak orang yang sedang pesta pora.
kamu mencoba mengintip ke dalam dan suasana di sana sangat menyenangkan. banyak uang, banyak game, banyak lelaki tampan dan wanita yang sangat aduhai, banyak pesta dan minum minum anggur yang paling mahal di dunia sekalipun, dan masih banyak lagi hal-hal yang bila dilihat kasat mata, adalah hal yang sangat menyenangkan dan ditunggu-tunggu banyak orang.
sejenak merasakan betapa sedapnya anggur dan dikelilingi letusan kembang api yang indah, ada seseorang yang berada di atas perahu sederhana, berada agak jauh dari tepi pantai pulau itu sedang memanggil nama-nama orang disana. memang orang yang merasa namanya dipanggilpun menoleh, namun menghiraukan suara itu.
terdengar sayup-sayup namaku dipanggil. terus namaku dipanggil.
rasa penasaranku pun muncul dan beranjak dari kenikmatan pesta besar-besaran itu. kelihatannya pesta itu akan terus berlangsung 24 jam penuh tanpa berhenti.

samar samar kulihat perahu itu dari kejauhan. tidak ada yang menarik. mungkin itu alasan mengapa orang-orang di dalam pesta itu menghiraukannya. rasa penasaran masih melingkupi hatiku dan berusaha melihat lebih jelas siapa yang berada dalam perahu itu, kabut yang sangat tebal menutupi seluruh area pulau.
ada sekilas bayangan manusia berada berdiri di sana. dengan santai terus memanggil-manggil namaku dengan setia.
wajahnya samar, tidak bisa kulihat. mungkin karena memang kabut sedang tebal.
mungkin tersadar aku sedang mengamatinya, dia tersenyum kecil dan mulai mengajakku pergi dari pulau itu. dia tidak bilang hal negatif yang banyak terpampang disana, dia hanya mengajak.
saat kutanya mengapa aku harus pergi dari pulau itu, dia hanya menjawab percaya saja.
setiap pertanyaan yang aku lontarkan hanya dijawab kembali, percaya saja.

bagiku tidak terlihat bagus untuk ikut dengannya. kabut semakin tebal dan gelap. belum lagi aku tidak tahu mengapa aku harus pergi. aku tidak tahu kemana dia akan mengajakku pergi. seberapa lama aku akan berada di perahu itu. sesuatu yang sangat tidak mungkin.

lebih enak berada dalam pulau itu. banyak teman, banyak uang yang bisa kubelanjakan. banyak sahabat. banyak game dan hal-hal yang menyenangkan. aku bisa mengeksplor hobiku lebih leluasa disana. dari pada hanya mengikuti perintah orang yang aku saja tidak tahu.

tunggu, aku seperti mengenal orang itu. hati kecilku berkata aku sangat akrab dengannya. tapi siapa dia?