Thursday, October 12, 2017

Berusaha Menjadi Baik Ternyata Tidak Sebaik Itu

hal yang sulit ternyata adalah ketika diminta untuk mengungkapkan pendapat atau apa yang aku inginkan. begitu banyak hal dan cerita yang terlintas dalam otakku yang sama sekali tidak memberikan aku kesempatan untuk memilih dan memilah mana yang harus aku pikirkan. ujungnya hanya sepatah dua patah kata saja yang keluar dari mulutku.
dan itu hal yang menjengkelkan.

belum lagi ketika akhirnya aku memutuskan untuk mengungkapkan hal-hal yang ingin aku ungkapkan sedikit demi sedikit, namun ternyata, kenyataannya, tidak ada yang peduli dengan pemikiranku. pemikiran itu hanya berguna dan berharga untuk pikiranku sendiri. seolah untuk kesenangan pribadi. mungkin itu yang membuat aku tidak ingin membicarakan sesuatu kepada orang lain, bahkan aku menyakiti diriku sendiri seolah orang lain yang membutuhkan aku dan aku tidak.

seandainya ada orang yang tau membaca mata. karna mata berbicara banyak hal dibandingkan mulut.

apakah egois ketika aku ingin ditanyai lebih dulu mengenai keadaanku dan berharap ada orang lain yang mengerti tanpa aku harus bicara kalau aku tidak baik-baik saja?
egois? tidak egois?
egois, karena semua orang nggak bakal ngerti apa yang aku pikirkan.
nggak egois, karena aku pun punya hak untuk ditanyai lebih dulu tanpa harus bercerita lebih dulu.

sulit, ketika harus menjadi tong sampah bagi orang lain.
belum lagi sampah-sampah yang kita miliki. mau dibuang kemana?

hal yang sulit lainnya adalah ketika aku memiliki banyak tanggung jawab di sekitarku. bukan lari dari tanggung jawab, tapi label peran yang melekat padaku membuat aku menjadi orang lain.
menjadi Kristen, menjadi mahasiswa, menjadi anak, menjadi kakak, menjadi pengajar, menjadi adik, menjadi sahabat, menjadi kekasih, menjadi apapun.
harus begini, harus begitu, harus melakukan ini, harus melakukan itu, kalau tidak melakukan, kamu bukanlah Kristen, mahasiswa, anak, kakak, pengajar, adik, sahabat, kekasih, atau apapun yang baik.


sepertinya blog ini hanya pelarian. ketika aku merasa nggak ada lagi yang bisa aku ajak bicara mengenai siapa aku sebenarnya. bahkan belum tentu aku yang sekarang adalah aku yang sebenarnya.

bukan munafik, bukan.
tapi aku lupa siapa aku sebenarnya. seperti kehilangan esensi dasar siapa aku.



stuck.
nggak ngerti mau bicara apa lagi.

dan pikiran lain yang terlintas adalah, obrolanmu nggak penting, nggak bermutu.
percuma orang lain juga nggak peduli sama kamu, percuma nggak akan mengubah apapun di hidupmu.



seolah berperang dengan diriku sendiri dan aku yang sebenarnya selalu kalah.


aneh?
memang.
nggak semua orang mengalami.
atau mengalami tapi nggak berani untuk mengungkapkan.

awal depresi mungkin?
ah, aku bisa kok.
hanya perlu waktu sendiri.



sakit kok.
lelah.
capek.
ingin keluar.


berusaha menjadi baik ternyata tidak sebaik itu.

Saturday, July 15, 2017

Menjadi Berbeda

Aku bisa jadi apa saja
Setinggi langit di angkasa yang tak ada batasnya
Aku bisa kalau aku mau
Cita-cita dan mimpiku...
Setinggi langit

Read more: http://www.wowkeren.com/lirik/naura/setinggi-langit.html#ixzz4mrydy6PG


Lagu itu terus berputar selagi beberapa foto-foto dan video lucu dari anak-anak PlayGroup bermunculan satu per satu. beberapa orang tua murid sudah datang ke pertemuan orang tua dan ada beberapa orang tua yang membawa anaknya, yang akan di sekolahkan di PlayGroup tersebut.

aku bukan bagian dari orang tua murid. aku bukan wali murid juga. tapi aku akan berperan sebagai kakak pengajar beberapa bulan ke depan dan mungkin anak-anak yang aku lihat menjadi salah satu anak yang akan ku ajar.

ada anak yang menari-nari saat lagu itu diputar. sambil beberapa kali menoleh ke belakang (karna aku dan beberapa kakak lain duduk di barisan paling belakang). anak itu tersenyum senang, bahkan sesekali meminta orang tua nya untuk berada di belakang. mungkin ingin bersama kakak-kakak pengajar di belakang hahhah polos sekali..



sempat aku teringat tentang mata kuliah yang akan aku ambil di semester berikutnya. dan aku mulai bingung dengan beberapa pilihan mata kuliah yang ada. bukan karna mampu, nggak mampu, tapi lebih karena suka, nggak suka, passion, nggak passion. orang tuaku menginginkan aku berada di perusahaan ketika sudah bekerja nantinya, atau mungkin bekerja di Bank dengan karier yang bagus, gaji yang besar, jalan-jalan setiap sebulan sekali dan lain sebagainya. dan aku merasa aneh karena apa yang aku inginkan berbeda dengan orang tua ku. selalu berbeda mungkin.

nggak hanya orang tuaku. teman-temanku pun juga menginginkan hal yang sama. mereka bekerja di perusahaan dengan gaji yang besar, mendapatkan bonus gaji tanpa harus bekerja terlalu keras. berada di ruangan ber-AC dan menikmati fasilitas perusahaan. mungkin juga kalau Tuhan berkehendak bisa bertemu dengan pasangan hidup mereka. ya, mungkin itu harapan setiap orang. bekerja di perusahaan, mendapat gaji yang besar dan berbagai bonus yang mengalir setiap bulan.

akupun terkadang menginginkan hal itu. tapi entah kenapa, dari aku kecil, aku ingin menjadi seorang guru. guru TK. dan tentu keinginan itu berbeda dengan keinginan orang pada umumnya. teman-temanku pun tidak begitu menyukai bekerja menjadi seorang guru karna alasan gaji mereka sedikit. orang tua ku pun tak kalah ambil suara, mereka lebih lagi mengatakan gaji sedikit, nggak ada liburan, terutamanya sih nggak ada jenjang karier yang bagus gitu deh..

memang benar. akupun melihat hal yang demikian.
tapi entah kenapa aku sampai sekarang tetap menyukainya.
nggak, aku nggak menyukai bekerja menjadi guru SMP atau guru SMA. aku lebih memilih untuk bekerja sebagai guru PG atau guru TK.


alasannya sederhana, karna aku bisa bermain dengan anak-anak hahaha
karna aku melihat anak adalah permata yang harus dijaga. masa kanak-kanak merupakan masa yang krusial karna mereka akan menerima berbagai informasi yang ada dan disana merupakan masa dimana mereka banyak belajar dari lingkungan. proses berpikir mereka sudah mulai jalan.
dan hal itu menjadi hal yang krusial.

ada harapan kecil di dalam hatiku.
aku nggak ingin anak-anak terkontaminasi dengan hal-hal yang tidak berguna.
aku nggak ingin anak-anak tidak bisa menikmati masa kanak-kanak mereka, masa bermain sambil belajar.
aku nggak ingin mereka memiliki gangguan, terutama gangguan secara psikis dan emosional, karna itu akan sangat berpengaruh pada saat ketika mereka beranjak dewasa maupun hingga sampai mereka dewasa.

aku adalah korbannya.
tuntutan yang tinggi dari orang tua dan keluarga.
sentakan, ucapan marah dari kedua orang tua, ejekan dari lingkungan membuat aku menjadi rendah diri dan merasa harus terus berprestasi agar "dilihat" orang lain.
"agar dilihat orang lain"


aku nggak ingin anak-anak yang polos itu merasa "tidak dilihat orang lain" atau "tidak dianggap orang lain"
karna hal itu menyakitkan, aku pernah merasakannya. dan cukup sulit untuk menghilangkan bekas luka itu.

anak-anak yang sangat berharga.
punya banyak potensi yang bahkan kita nggak sangka-sangka.
punya kreatifitas yang bahkan kita sendiri nggak pernah memikirkan hal itu.
punya kebahagiaan yang tentunya tidak berdasarkan pendapat orang lain.
punya segalanya.

dan mungkin tugasku disini adalah..

menjadi berbeda.



Tiffani Narulita

Tuesday, November 22, 2016

Tidak Akan Kekurangan, Itu Janji Tuhan Dalam Setiap Kehidupan Kita.

beberapa hari, beberapa minggu, dan beberapa bulan di semester lima sungguh sangat melelahkan. banyak proses yang terjadi dalam kehidupanku, termasuk keadaan diriku yang sebenarnya. aku nggak sekuat yang aku bayangkan dan nggak sekuat yang mereka bayangkan. aku nggak sepintar yang mereka bayangkan. dan aku nggak seperti yang mereka harapkan. mungkin mereka berpikir bahwa aku pintar, aku bisa melakukan segala sesuatu, tapi mereka hanya sekedar menyatakan sebuah pernyataan. bukan karena mereka peduli pada keadaanku. sampai suatu saat aku menangis. menangisi diriku sendiri yang tidak dapat mengasihi diriku sendiri. benci. sangat membenci diriku sendiri. bahkan akupun nggak mau menjadi diriku, aku ingin menjadi orang lain. alasannya sederhana, karena jadi aku nggak enak.

nggak terlalu pintar kok. nggak bodoh juga. nggak bisa apa-apa. nggak bisa masak. nggak bisa naik sepeda ontel. nggak bisa naik sepeda motor. nggak bisa naik mobil. nggak bisa nyanyi dengan bagus. nggak bisa main gitar. nggak bisa nyetrika. nggak bisa melakukan apapun dengan benar. nggak bisa dan nggak bisa.

minder. dilengkapi dengan bumbu-bumbu iri hati menghasilkan kesombongan yang luar biasa. mulai merendahkan orang lain, menganggap orang lain nggak mampu, menganggap diri paling bisa dan akhirnya berfokus pada diri sendiri. sampai saat itu Dia menegurku dan mengajariku bahwa aku anak yang dikasihiNya. aku anak kesayanganNya dan darahNya cukup bagiku. disitu aku mulai belajar untuk mengasihi diriku, siapa aku sebenarnya dan belajar mengasihi sama seperti Dia lebih dulu mengasihiku disaat aku bahkan tidak dapat mengasihi diriku sendiri. sakit? sakit sekali ketika diproses. dalam banyak hal dan banyak aspek aku diproses.


dan malam ini aku belajar suatu hal. bahwa masih ada orang-orang di sekitar kita yang memperhatikan kita sekalipun kita tidak tahu. dan masih ada kesempatan, waktu kapanpun itu untuk menceritakan kebesaran dan kemurahan Tuhan, pengalaman pribadimu dengan Tuhan, masih ada kesempatan untuk orang lain selamat dan naik ke kapal yang terakhir. masih ada bagianmu yang dapat dibagikan ke orang lain sehingga bagianmu tidak hanya kamu nikmati sendiri lalu menjadi tidak berguna, namun dibagikan ke orang lain dan dapat memberikan inspirasi bagi orang lain.

sekalipun aku membutuhkan orang lain, sekalipun aku butuh penghiburan dari orang lain, sekalipun aku membutuhkan dukungan dari orang lain, tapi aku tetap tidak bisa melepaskan apa yang menjadi kerinduan hatiku. yaitu mendengarkan dan membantu orang lain. salah satu hal yang berguna, kecil dan dapat ku lakukan adalah mendengarkan dan memberi pertolongan berupa nasihat-nasihat serta pandangan-pandangan dengan harapan aku dapat sedikit membantu orang lain dengan apa yang aku miliki. yang aku tahu adalah, semakin aku berbagi, aku semakin tidak kekurangan. sebab ketika kamu memilih untuk peduli kepada orang lain, Tuhan sendirilah yang mempedulikan aku. Tuhan sendirilah yang mencukupi kebutuhanku. tidak hanya kebutuhan finansial tapi juga kebutuhan kasih sayang, kebutuhan kelegaan, kebutuhan sukacita, kebutuhan damai sejahtera yang memang telah tersedia bagiku. tidak akan kekurangan, itu janji Tuhan dalam setiap kehidupan kita.


Thanks, Lord.
You're more than enough for me.
Teach me how to fullfill that.

Tiffani Narulita