beberapa hari, beberapa minggu, dan beberapa bulan di semester lima sungguh sangat melelahkan. banyak proses yang terjadi dalam kehidupanku, termasuk keadaan diriku yang sebenarnya. aku nggak sekuat yang aku bayangkan dan nggak sekuat yang mereka bayangkan. aku nggak sepintar yang mereka bayangkan. dan aku nggak seperti yang mereka harapkan. mungkin mereka berpikir bahwa aku pintar, aku bisa melakukan segala sesuatu, tapi mereka hanya sekedar menyatakan sebuah pernyataan. bukan karena mereka peduli pada keadaanku. sampai suatu saat aku menangis. menangisi diriku sendiri yang tidak dapat mengasihi diriku sendiri. benci. sangat membenci diriku sendiri. bahkan akupun nggak mau menjadi diriku, aku ingin menjadi orang lain. alasannya sederhana, karena jadi aku nggak enak.
nggak terlalu pintar kok. nggak bodoh juga. nggak bisa apa-apa. nggak bisa masak. nggak bisa naik sepeda ontel. nggak bisa naik sepeda motor. nggak bisa naik mobil. nggak bisa nyanyi dengan bagus. nggak bisa main gitar. nggak bisa nyetrika. nggak bisa melakukan apapun dengan benar. nggak bisa dan nggak bisa.
minder. dilengkapi dengan bumbu-bumbu iri hati menghasilkan kesombongan yang luar biasa. mulai merendahkan orang lain, menganggap orang lain nggak mampu, menganggap diri paling bisa dan akhirnya berfokus pada diri sendiri. sampai saat itu Dia menegurku dan mengajariku bahwa aku anak yang dikasihiNya. aku anak kesayanganNya dan darahNya cukup bagiku. disitu aku mulai belajar untuk mengasihi diriku, siapa aku sebenarnya dan belajar mengasihi sama seperti Dia lebih dulu mengasihiku disaat aku bahkan tidak dapat mengasihi diriku sendiri. sakit? sakit sekali ketika diproses. dalam banyak hal dan banyak aspek aku diproses.
dan malam ini aku belajar suatu hal. bahwa masih ada orang-orang di sekitar kita yang memperhatikan kita sekalipun kita tidak tahu. dan masih ada kesempatan, waktu kapanpun itu untuk menceritakan kebesaran dan kemurahan Tuhan, pengalaman pribadimu dengan Tuhan, masih ada kesempatan untuk orang lain selamat dan naik ke kapal yang terakhir. masih ada bagianmu yang dapat dibagikan ke orang lain sehingga bagianmu tidak hanya kamu nikmati sendiri lalu menjadi tidak berguna, namun dibagikan ke orang lain dan dapat memberikan inspirasi bagi orang lain.
sekalipun aku membutuhkan orang lain, sekalipun aku butuh penghiburan dari orang lain, sekalipun aku membutuhkan dukungan dari orang lain, tapi aku tetap tidak bisa melepaskan apa yang menjadi kerinduan hatiku. yaitu mendengarkan dan membantu orang lain. salah satu hal yang berguna, kecil dan dapat ku lakukan adalah mendengarkan dan memberi pertolongan berupa nasihat-nasihat serta pandangan-pandangan dengan harapan aku dapat sedikit membantu orang lain dengan apa yang aku miliki. yang aku tahu adalah, semakin aku berbagi, aku semakin tidak kekurangan. sebab ketika kamu memilih untuk peduli kepada orang lain, Tuhan sendirilah yang mempedulikan aku. Tuhan sendirilah yang mencukupi kebutuhanku. tidak hanya kebutuhan finansial tapi juga kebutuhan kasih sayang, kebutuhan kelegaan, kebutuhan sukacita, kebutuhan damai sejahtera yang memang telah tersedia bagiku. tidak akan kekurangan, itu janji Tuhan dalam setiap kehidupan kita.
Thanks, Lord.
You're more than enough for me.
Teach me how to fullfill that.
Tiffani Narulita
No comments:
Post a Comment